Bulan Warna-warni itu Menunggumu Untuk Tertawa Bersamanya, Selamanya.

Kematian adalah kepastian, ada yang membiarkan kedatangannya menjadi misteri, ada yang menjemputnya dengan paksa.

Kalimat di atas menjadi kalimat pembuka dalam bab pertama, Perlawanan, dalam buku berjudul Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam. Buku ini menceritakan tentang kisah Magi Diela. Magi Diela yang bermimpi suatu saat akan membangun tanah kelahirannya, namun ternyata budaya dari tanahnya sendiri memaksanya untuk melalui jalan terjal yang menyakitkan dan berpamitan dengan mimpi mulianya itu. Magi dipaksa untuk mengalami pengalaman menjijikkan, menyakitkan, menguras air mata, keringat, bahkan darah, yang tak lain adalah menjadi korban tradisi Yappa Mawine. Aku akan berbagi pengalamanku membaca buku Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam ini sekaligus sedikit menceritakan tentang Yappa Mawine, sebuah tradisi di tanah Sumba yang mungkin belum banyak didengar. Selamat membaca!



Aku tahu buku ini akan menguras emosiku saat nanti membacanya, tapi sungguh aku cukup kaget karena karya mbak Dian Purnomo ini sudah membuat hatiku berdenyut nyeri sejak membaca paragraf pertama. Bagaimana tidak berdenyut nyeri, Magi Diela berusaha mengakhiri nyawanya sendiri dengan cara yang tidak pernah sekalipun terpikirkan olehku. Kamu tahu bagaimana caranya? Ia menggigit pergelangan tangannya sendiri berkali-kali sampai robek dan berharap nadinya segera terkoyak. Jalan pikiran Magi benar-benar GILA, atau bahkan diksi lain yang lebih GILA dari gila itu sendiri lebih pas untuk mewakilinya. Namun, Magi memang harus menjadi gila dan harus lebih gila dari orang gila yang akan dia lawan, Leba Ali.

Leba Ali adalah satu dari sekian banyak penjahat yang ingin aku beri teriakan PEREMPUAN ITU BUKAN OBJEK tepat di depan mukanya, atau bahkan akan aku paksa penjahat itu menyumbat telinganya dengan alat bantu dengar yang isinya hanya kalimat-kalimat ini: perempuan itu bukan suatu objek, semua orang tidak boleh diperlakukan semena-mena termasuk perempuan, perempuan bukan barang sekali pakai yang bisa berkurang nilainya, perempuan lebih dari sekadar tubuhnya, perempuan adalah mahluk mulia, dan yang paling penting perempuan bisa dan mampu untuk terus melawan.

Perempuan bisa dan mampu untuk terus melawan bukan hanya omong kosong belaka, Magi adalah satu dari banyaknya perempuan yang telah membuktikan bahwa kalimat itu benar adanya. Magi berjuang untuk melawan Yappa Mawine yang secara harfiah berarti culik perempuan, atau biasa orang menyebutnya dengan kawin tangkap. Bisa kamu bayangkan, ada seorang perempuan yang sedang dalam perjalanan pekerjaannya untuk mengadakan penyuluhan pertanian di suatu desa, lalu tiba-tiba ia diculik. Magi diculik, dilecehkan oleh orang-orang suruhan si penjahat, diarak keliling kampung, dikurung, dirampas kemerdekaannya, dan yang paling miris adalah dipaksa kawin dengan penjahat Leba Ali.

Dalam praktik budaya kawin tangkap, seorang perempuan diculik, ditangkap untuk dikawini. Kamu tidak salah membaca, kawin tangkap sangat dekat dengan dua kejahatan kemanusiaan penculikan dan pemerkosaan. Tradisi ini masih belum bisa aku terima sampai kalimat ini tertulis, atau bahkan selamanya aku tidak bisa menerima tradisi ini. Aku akan memberimu penggalan dialog antara Magi dengan dong punya tamo agar kamu lebih paham tentang tradisi masyarakat Sumba ini. “Yang sa dengar kalau ada kawin tangkap, itu sebetulnya su direncanakan. Jadi seperti sandiwara saja, supaya tidak terlalu mahal biaya untuk urusan deng keluarga,” lirih Magi. “Mungkin sebetulnya sudah ada perjanjian antara sa punya bapak kecil dan ko punya ama. Karena biasanya seperti itu,” adalah balasan tamo, Magi Wara, dalam obrolannya dengan Magi Diela. Nanti jika kamu berkesempatan membaca buku ini, kamu akan tahu mengapa tamo bisa mengatakan kalimat menyakitkan itu.


Sepanjang perjalanannya berjuang dan bertahan, Magi berjumpa dengan banyak orang baik yang memberinya bantuan. Dimulai dari mama-mama Yayasan Rumah Aman Kupang, korban pemerkosaan yang selanjutnya menjadi adiknya selama di Rumah Aman, bos barunya di Soe, hingga mama-mama kelompok usaha tani perempuan yang rutin ia beri penyuluhan. Saat membaca kisah para mama kelompok usaha tani, rasa nyeri dan pilu berlomba menghampiriku. Ada istri yang rela disiksa SUAMINYA sendiri karena ia menganggap penyiksaan itu adalah bagian dari cara suami mendidik istri dan anaknya. Hal ini adalah bukti nyata ketidakmerataan akses pendidikan dan informasi di negeri ini. Isu kekerasan dalam rumah tangga mungkin sudah cukup familier bagi kita, tetapi kenyataannya masih banyak saudara kita yang belum mendapatkan wawasan serupa.

Menulis tentang kekerasan dalam rumah tangga tak lengkap rasanya jika tidak menuliskan pula tentang kisah dua ibu dan anaknya yang aku baca melalui unggahan twitter Rumah Bulan. Singkatnya, kedua perempuan hebat ini mengalami kekerasan dalam rumah tangga dengan pelaku yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Tak puas hanya menyiksa istrinya, putri kecil yang manis juga ikut menjadi korban ketidakwarasan ayahnya sendiri. Bagian yang membuatku paling menangis adalah saat mengetahui bahwa salah satu ibu memilih mengakhiri hidupnya dan satu ibu lainnya pergi meninggalkan dunia setelah berjuang dengan sakit fisik yang dideritanya akibat tindak keji suaminya. Kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya menyakitkan untuk istri, namun juga menyakitkan untuk anak yang tidak mendapat kasih sayang seorang ayah sekaligus kehilangan ibu untuk selamanya.

Buku bersampul merah muda ini membuka banyak wawasan baru tentang betapa beragam dan menariknya budaya di Indonesia, khususnya di Sumba. Masyarakat Sumba lebih memilih menangkap babi hutan untuk diolah menjadi berbagai hidangan daripada menggunakan daging babi ternak. Kira-kira apa yang membuat mereka lebih menyukai daging babi hutan? Coba kamu tebak alasannya. Cara mereka memberi salam juga unik, bukan dengan berjabat tangan, tetapi dengan berciuman hidung. Pernikahan dengan sesama suku juga dianggap terlarang. Ada juga peci, bukan peci penutup kepala loh. Peci di Sumba dikenal sebagai minuman beralkohol yang terbuat dari nira pohon lontar dan difermentasi secara tradisional. Hal menarik lainnya untukku adalah Kota Soe. Ibu kota Kabupaten Timur Tengah Selatan ini dijuluki the freezing city karena memiliki suhu lebih dingin dibandingkan kota-kota lain di Pulau Timur.

Buku berjudul Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam ini bukan hanya tentang kisah, tetapi tentang kehidupan yang nyata, tentang pengalaman yang sering kali tidak terlihat namun benar-benar ada. Tentang Indonesia dengan segala kekayaan budayanya, tentang seorang Ibu yang selalu mengutamakan anak-anaknya, tentang seorang Bapak yang diam-diam menyimpan rindu kepada anaknya yang jauh dari rumah, tentang kasih seorang kakak terhadap adiknya, tentang cinta yang tidak bisa bersatu karena terhalang kepercayaan adat, tentang sahabat yang tetap bertahan dalam suka dan duka, tentang manusia yang saling mengasihi, dan tentang Magi Diela yang melawan agar tidak ada Magi Diela lain di kemudian hari.

 

Most importantly, huge appreciation to the author, mbak Dian Purnomo for crafting such an-eye opening book. Thank you for highlighting the issues surrounding women. This book is truly a must-read! May this book inspire more people to become aware and take action on this important matter.

 


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pukul Tujuh Malam

One Fun Day