Posts

Jumog dan lesehan pinggir kali

Image
     Hallo semuanya! Jumpa lagi. Gimana nih, kabar resolusi 2020 yang dikoar-koarin awal tahun kemarin? Kabar baik atau malah kabar buruk? Semoga yang terbaik ajaa yaa, aamiin. Udah ah basa-basinya, selamat membaca dan semoga bermanfaat!   25 Desember 2020.      Tawangmangu, kita berjumpa kembali. Senang sekali, akhirnya ke Tawangmangu setelah beberapa kali wacana dan cuma bisa main virtual dengan cara menjadi penonton story dan post -an orang lain tentang TW.   Bil, besok pas kamu ke Solo ke TW yuk! Ih kangen TW, main ke TW yuk?! Ayo ke TW, pengen banget ke sana.        Ngajak doang tapi nggak segera nentuin tanggal main mah sama aja bohong, ya nggak sih? Udah capek sama yang namanya wacana. Banyak plan yang udah disusun untuk direalisasikan di tahun ini, tapi berakhir wacana semata. Sebaliknya, banyak hal yang terjadi tanpa rencana. Tbh, sempat sedih karena ada banyak hal yang akhirnya ditunda atau bahkan bat...

Selo: Sing Penting Gas Wae

Image
Hallo semuanya, jumpa kembali dengan tulisanku. Selamat membaca dan semoga bermanfaat tentunya!          30 Oktober 2020. Dadakan, tanpa tujuan, sing penting gas wae adalah aku dan Rahmi kala itu. Dimulai dari aku yang tiba-tiba chat Rahmi ngajakin main dua hari setelahnya, sudah tahu mau main ke Selo tapi bingung destinasi wisatanya, sampai tiba-tiba Rahmi bilang ternyata ada janjian sama orang lain dihari yang sama. Namun, kabar baiknya adalah semua itu dapat terselesaikan dengan baik dan   agenda main kita tidak hanya sekadar wacana belaka. Yang dadakan emang kadang lebih pasti daripada yang udah planning jauh-jauh hari mau main, tapi malah berakhir sia-sia menjadi wacana. Bermodal foto-foto tempat wisata sekitar Selo yang ada di google maps, kami menjadikan Bukit Sanjaya sebagai first stop untuk menikmati Selo. Setelah beres membayar tiket masuk, Rp10.000,00, kami harus menaiki tangga yang cukup banyak untuk sampai di atas lalu duduk di gub...

Mau Makan Dimana?

Image
Aku peringatkan dari awal, tulisan ini tidak seindah cerita pendek yang kau tulis. Tetapi, tulisan ini sangat berantakan dan nggak jelas banget lah pokoknya. Yaudahlah ya biarin aja yang penting selamat membaca! Sudah dari pertengahan Maret lalu, aku mulai terbiasa tidak terlibat dalam obrolan yang biasanya selalu menjadi salah satu topik obrolanku dan teman-teman hampir setiap hari. Kurang lebih seperti ini petikan obrolannya:   Eh mau makan dimana e? Nugroho yuk? Kalau tutup nanti gas Jepun ya?! Conel aja kuy?! Eh apa mau grabfood aja? Siapa yang punya promo? Nih pakai punyaku aja, aku ada ovo. Siapa yang mau ambil, Bapaknya di dekat pura. Aurora yok. Pengen kangkungnya. Aku minumnya aqua aja, kamu mau minum apa? Barengan ya bayar parkirnya (sambil nyengir) Eh aku pengen kumlot. Aku cabe 3 sama es teh. Aku cabe 1 aja deh. Gacoan yuk?! Kita antri, kalian yang nyari tempat ya! Ntar sore aku mau ke Pak Dalang. Burjo aja yuk?! Lagi pengen indomie. ...
Image
#1 Udara dingin tanpa permisi mengganggu pagi hangat sekumpulan mahasiswa yang sedang asyik bertukar cerita. Semalam suntuk hingga ayam berlomba untuk berkokok, kami berlima larut dalam obrolan panjang di ruang aula. Mulai dari topik seputar makrab, yang sedang kami jalani, hingga topik abstrak   seperti mengapa burung terbang dan ikan berenang menjadi alasan mengapa kami masih terjaga. Ya, memang se- absurd itu mahasiswa yang tergabung di dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Listu ini.   Malam keakraban, atau biasa disebut makrab, kali ini diikuti oleh bakal anggota serta pengurus Teater Listu. Umumnya, mahasiswa akan menanti makrab tiba, karena akan ada banyak kejutan di dalamnya. Entah mendapat teman baru, menjadi bulan-bulanan kakak tingkat, berpetualang menyusuri hutan, malam api unggun, atau mendapat gebetan baru (jangan terlalu berharap untuk kejutan yang satu ini ya!). “Kalian nggak pada ngantuk? Ternyata udah lama banget kita ngobrolnya, sekara...
Image
Hiruk pikuk khas pasar malam terdengar sayup ditelingaku. Lampu sorot langit sokle besar, yang menandakan pasar malam tengah berlangsung, semakin jelas terlihat. Malam ini, dia mengajakku pergi ke pasar malam. Pukul 19.30, kami tiba di lapangan tempat pasar malam berlangsung meriah. Setelah memastikan motor terkunci dengan aman, kami membenarkan jaket supaya dingin tak terlalu terasa. Kami bingung harus mencoba permainan yang mana terlebih dahulu. Banyak permainan yang ada membuat bingung. Sedikit permainan yang akhirnya membuat pasar malam terlihat sepi juga bukan solusi yang tepat. Terlihat sepele memang, namun seringkali kita terlalu dibuat rumit oleh hal-hal sepele. Hingga pada akhirnya, kami memutuskan untuk mencoba permainan kora-kora sebagai pembuka. Ini kali pertama aku mencoba permainan kora-kora dan takut sedang bersamaku saat ini. Dia sudah selesai membeli dua tiket yang tentunya satu untuknya dan satu untukku. Ketakutanku semakin menjadi, bahkan aku sempat kepik...
Hai! Selamat membaca, semoga betah sampai akhir :) Jumat, 25 Januari 2019 aku pulang dari kos ke rumah. Siang itu cukup mendung, tapi aku mencoba berpikir positif, ­ alah ini cuma mendung semoga aja ngga hujan,sebenarnya untuk menenangkan diri saja sih. Aku mengendarai motor menyibak jalanan Solo yang tak terlalu ramai kala itu. Belum lama aku mengendarai motor, tiba-tiba hujan turun perlahan mulai dari rintik-rintik hingga cukup deras. Ya, seperti kebanyakan orang, aku menepi di depan rumah warga untuk mengggunakan jas hujan. Aku buka jok motor dan ku ambil sandal serta jas hujanku. Tiba-tiba muncul seorang wanita yang sudah cukup sepuh dari dalam rumah. “ Bu , nderek ngiyup nggeh, ”­izinku kepada si Ibu karena aku sembarangan berhenti di depan rumahnya. “ Enggeh Mbak , mboten nopo - nopo. Mriki mlebet riyin mawon , udan deres Mbak ,” balas si Ibu dengan hangat diantara dinginnya hujan. Sembari aku mengganti sepatu dengan sandal dan memakai jas hujan, kami terli...